Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Friday, July 25, 2008

Arti Cinta Dan Perkawinan.

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya? "
Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap palingmenakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut Saatku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting - ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yangtadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"
Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa ituperkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya? "
Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"
Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untukmendapatkannya"
Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yangdidapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidakdapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaikdiantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untukmendapatkannya. Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia - sialah waktumudalam mendapatkanperkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya

Live My Life For YOU

You don`t rembember
All the things
I did and the times i ran
You`ve forgotten
Who i used to be
You just see who i am
There`s not a single day
That passes by that i`mNot in Your hand
And i don`t understandBut it still amazes me
That i`m part of Your plan

I can`t think of anything i`d rather
Do than live my life for You
I can`t think of anywhere i`d
Rather be than on the rad that
Leads me to truth
Cause i really wanna do
Is live my life for You

This world can`t offer me
Anything i really need
The only thing that i want
Is right in front of me
It`s found You
It`s all that i believe
And all my heart is beating forYou and You alone
Nothing More

There`s so many voices
In my head everyday
A thousand different
Roads that lead
A million different ways
But one things is for sure You
Always nothing else compares
To the love You`ve given me

WWJD

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yohanes 14:21)

Akhir-akhir ini seni cetak dan semboyan-semboyan yang ditampilkan di atas baju-baju T-shirt modern zaman sekarang sudah menjadi bertambah berani saja, dihiasi dengan yang gambar-gambar yang berwarna-warni. Dari merek-merek terkenal di dunia, nama-nama atau foto-foto orang/artis termasyhur disertai oleh kalimat-kalimat sangat ‘catchy’, sampai kalimat-kalimat yang mengutarakan tema-tema yang sudah menjurus pada hal-hal yang tidak sopan, bahkan kadang-kadang ... berbau porno.

Tetapi di lain pihak, pernahkah Anda melihat, atau paling sedikit mendengar tentang ‘slogan’ pendek termasyhur yang sekarang sudah menjadi ‘trademark’ orang-orang Kristen semenjak pertengahan dasawarsa ke-90, yang berbunyi: WWJD (What Would Jesus Do?)?

Sampai saat ini baju-baju T-shirt seperti itu masih bisa terlihat dikenakan oleh kaum muda-mudi, bahkan kadang-kadang oleh orang-orang yang sudah lebih ‘mature’ umurnya, baik di Australia, Eropah, maupun di Indonesia. Saya sendiri memiliki dan sering kali mengenakannya.

Semboyan berbentuk pertanyaan pendek yang berhasil dipromosikan secara global oleh perusahaan-perusahaan ‘kristiani’ ini mempunyai sejarah yang cukup mengesankan. Tahukah Anda, siapa yang memulai slogan yang sudah diterima secara internasional oleh para pengikut Kristus dari berbagai denominasi, besar ataupun kecil, sebagai salah satu semboyan kristiani yang paling dikenal di dunia saat ini?

Alkisah, … pada tahun 1896 sebuah buku yang ditulis oleh Charles Sheldon, berjudul ‘In His Steps’, mengakibatkan ungkapan yang sudah berabad-abad sebelumnya menjadi pedoman hidup orang-orang Kristen ditanggapi oleh tubuh Kristus dengan lebih serius lagi. ‘Imitatio Dei’ yang berarti: Meniru Tuhan, menjadi tema utama buku yang sebenarnya adalah hasil kumpulan khotbah-khotbah yang ia berikan setiap hari Minggu kepada jemaat gerejanya di Topeka, Kansas, di Amerika.

Di dalam buku tersebut ungkapan Charles Sheldon tampil berkali-kali untuk menantang jemaat setempat (dan juga para pembacanya), agar mereka mau memberikan ‘commitment’ pada kehidupan ‘Christian Socialism’. Di sana phrase ‘What Would Jesus Do?’ disinggung berulang-ulang kali, di mana Tuhan Yesus Kristus lebih dipromosikan sebagai seorang Pemberi Contoh Moral yang harus diteladani, dari pada sebagai Juruselamat manusia.

Semboyan tersebut menjadi termasyhur sekali di antara para pengikut Kristus di abad itu, sehingga mengakibatkan timbulnya sebuah gerakan kristiani populer di Amerika Serikat yang dinamakan: ‘Social Gospel’, di mana Injil diberitakan oleh mereka melalui pelayanan kasih terhadap sesama manusia yang sedang membutuhkannya.

Salah seorang pelopornya yang bernama Walter Rauschenbusch mengakui, bahwa semboyan yang dibahas berkali-kali di dalam buku In His Steps sudah mempengaruhinya untuk melibatkan diri di dalam gerakan tersebut. Buku yang pada tahun 1935 sudah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa ternyata berhasil menjadi salah satu ‘bestseller’ bertaraf antarbangsa selama dua abad berturut-turut.

Salah satu kisah nyata mengharukan yang disajikan di sana adalah kisah pertemuan salah seorang dari beberapa tokoh-tokoh terpenting di dalam buku tersebut, seorang pendeta bernama Rev Henry Maxwell dengan seorang lelaki tunawisma, yang mengakibatkan hati nuraninya merasa tertegur sekali. Pertemuan tak terduga itu menggugah dirinya untuk mempertimbangkan kembali ungkapan: Meniru Tuhan dengan menanggapinya secara lebih serius lagi.

Laki-laki yang tidak memiliki tempat tinggal tetap tersebut menceriterakan kesulitannya untuk memahami tingkah-tingkah laku orang-orang Kristen yang pernah ditemui olehnya.

“Saya mendengarkan mereka menyanyi di dalam gereja pada suatu malam pertemuan doa,” ujarnya: “All for Jesus, all for Jesus (Semua untuk Yesus, semua untuk Yesus), All my being’s ransomed powers (Seluruh keberadaanku di bawah kuasa-kuasa penebus), All my thoughts, and all my doings (Segala pikiran-pikiranku, dan segala perbuatan-perbuatanku), All my days, and all my hours (Semua hari-hariku, dan semua jam-jamku).”

“Saya merasa heran ketika duduk di atas tangga di luar gereja mendengarkan lagu itu dikumandangkan dari dalam,” terusnya: “Menurut pendapat saya, banyak sekali masalah yang terjadi di dunia ini yang bisa diatasi dengan segera, jika semua orang yang ada di dalam gereja tersebut tidak hanya menyanyi saja, tetapi pergi dan melakukannya.”

Ia menghela nafas sebentar sebelum meneruskan keluhannya: “Mungkin saya belum bisa memahaminya. Tapi … apakah yang akan Yesus lakukan? (What Would Jesus Do?) Apakah itu yang kalian maksudkan dengan mengikuti langkah-langkah-Nya? Kelihatannya, … orang-orang yang beribadah di dalam gereja-gereja yang besar dan megah selalu mengenakan pakaian-pakaian yang indah, tinggal di dalam rumah-rumah yang bagus, memiliki uang yang berlebih-lebihan untuk bisa membeli barang-barang yang mewah, pergi bertamasya di musim panas, dan lain sebagainya. Sedangkan orang-orang yang berada di luar gereja, … beribu-ribu banyaknya, mati kelaparan terhimpit di dalam rumah-rumah kecil bersesak-sesakan, harus berjalan kaki kian-kemari untuk mencari nafkah. Mereka tidak pernah memiliki piano atau pigura-pigura foto di dalam rumah, bahkan harus hidup penuh penderitaan akibat kekerasan, kemabukan dan perbuatan-perbuatan dosa yang terjadi di sekeliling mereka.”

Inilah awal dari banyak sekali tokoh-tokoh yang tampil di dalam buku itu yang menggunakan ungkapan berbentuk pertanyaan: “What Would Jesus Do?” pada saat mereka harus menghadapi berbagai macam persoalan-persoalan penting yang memerlukan keputusan-keputusan mereka seketika itu juga. Mereka selalu bertanya: “Tindakan apakah yang akan dilakukan oleh Yesus, jika Ia harus menghadapi masalah yang sedang kuhadapi ini?”

Sebagai akibat tantangan-tantangan tersebut, semua tokoh-tokoh yang tampil di dalam buku ituharus lebih bersungguh-sungguh di dalam menanggapi makna iman kristiani mereka. Mereka harus lebih bersandar pada pusat kepercayaan mereka, yaitu: Kristus dan Kehidupan-Nya!

Di dalam Kitab Matius pasal yang ke-25, Tuhan Yesus mengajar para pengikut-Nyamengenai hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman. Ia berkata, bahwa Ia akan datang kembali diiringi oleh semua malaikat sorgawi, duduk di atas takhta kerajaan-Nya dengan penuh kemuliaan, serta mengumpulkan segala bangsa di dunia datang menghadap untuk diadili.

Di sana mereka akan dipisahkan seorang dari pada yang lain, seperti memisahkan domba dari kambing. Domba-domba akan ditempatkan di sebelah kanan-Nya, sedangkan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Kaum domba diibaratkan oleh Yesus sebagai hamba-hamba setia yang melakukan kehendak-kehendak-Nya. Sedangkan kambing-kambing diibaratkan sebagai para pengikut-Nya yang mengabaikan perintah-perintah-Nya.

Yesus melukiskan kesetiaan domba-domba-Nya seperti ini: “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Matius 25:34-36)

Hal-hal yang dilakukan oleh domba-domba tersebut adalah kebiasaan-kebiasaan yang selalu dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri selama masa pelayanan-Nya di dunia yang amat singkat. Di dalam keempat Injil Perjanjian Baru dikatakan, bahwa Ia selalu melayani setiap orang yang memerlukan pertolongan-Nya. Semua itu Ia lakukan dengan penuh kasih dan ketulusan hati. Domba-domba itu berkenan di hadapan-Nya, karena mereka sudah meniru langkah-langkah-Nya.

Yesus mengakhiri tema bahasan mengenai domba-domba yang setiaitu dengan berkata: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)

Ayat tersebut merangkum seluruh pengertian, bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan untuk orang-orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan kita, adalah tindakan dari Kristus (yang melayani), untuk Kristus (yang dilayani)!

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17)

John Adisubrata

SUDAH JAM BERAPA?

Kadang-kadang kita lupa bahwa betapa sangat singkatnya kita hidup di dunia yang fana ini. Bahkan beberapa orang merasa hidupnya akan sangat panjang. Seorang penyair berkata: “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi.” Padahal kenyataannya manusia hidup rata-rata hanya 50 tahun untuk orang asia dan 60 tahun untuk orang eropah. Bayangkan saja betapa sangat singkatnya seorang menghuni planet ini jika dibandingkan dengan usia seekor kura-kura yang dapat mencapai umur 100 tahun.Pemazmur berkata: “Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.” (Mazmur 114:4)
Bayangkan saja seperti angin dan bayang-bayang. Barusan saja kita melihatnya namun segera saja dia berlalu. Betapa sangat singkatnya sampai-sampai dikatakan seperti mengebutkan seekor belalang: “Aku menghilang seperti bayang-bayang pada waktu memanjang, aku dikebutkan seperti belalang. (Mazmur 109:23)Nabi Musa telah mendapatkan wahyu bahwa umur manusia hanya sampai 70 tahun dan jika diberi bonus menjadi 80 tahun: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10) Kita akhirnya kembali terhenyak dan mengingat betapa fananya hidup kita di bumi ini. Lantas demikian, apakah yang harus kita lakukan dalam mengisi hidup kita yang singkat di dunia fana ini?
Marilah kita mempelajari perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yaitu tentang pekerja upahan kebun anggur. Dalam ayat pertama kita membaca: “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.” Kita dapatkan ayat kuncinya yaitu Kerajaan Sorga. Jadi sebuah sistem ternyata berlaku dalam management Kerajaan Sorga. Ini menjadi pijakan bagi kita bahwa Kerajaan Sorga itu bukanlah kerajaan gampangan yang dapat dimasuki dengan begitu saja. Ada sistem yang berlaku dan kita harus memahami ini agar pintu sorga terbuka kelak.
Kata kuncinya adalah BEKERJA.Yesus membagi kelopok pekerja di kebun angggur itu dalam 5 kelompok. Kelompok pertama mulai bekerja pagi-pagi benar kira-kira pukul 6 pagi = 12 jam kerja, kelompok kedua pukul 9 pagi = 9 jam kerja, kelompok ketiga pukul 12 = 6 jam kerja , kelompok keempat pukul 3 sore = 3 jam kerja, kelompok kelima pukul 5 petang = 1 jam kerja. Satu-satunya kelompok yang bekerja berdasarkan penjanjian adalah kelompok pertama yaitu upah 1 dinar sehari/ (1 hari = 12 jam).
Dalam bahasa Yunani kata waktu diterjemahkan dari kata KRONOS. Dari kata kronos kita mengenal istilah kronologis atau urut-urutan waktu. Nah tepat bukan, Yesus mengurutkan kelompok pekerja tadi berdasarkan waktu mereka mulai bekerja. Musa telah mendapatkan wahyu bahwa usia manusia adalah 70 tahun (Mazmur 90:10). Nah kalau kita umpamakan 12 jam itulah umur kita maka persamaannya adalah 70:12=5,8. Kita bulatkan saja jadi 6 artinya setiap jam mewakili 6 tahun usia manusia. Jadi kelompok pertama tadi telah mulai bekerja sejak usia lahir, kelompok kedua usia 24 tahun, ketiga 42 tahun, keempat 60 tahun, dan kelompok kelima 70 tahun. Pada malam hari (pukul 7) semua pekerja dipanggil dan diberi upah 1 dinar. Mulai dari kelompok pertama hingga kelompok 5 semuanya mendapat 1 dinar. Ini berarti bahwa upah setiap pekerja diladang anggurNya adalah 1 dinar sehari dan semuanya akan dibayar nanti setelah malam. Malam disini bermakna setelah dipanggil pulang (mati). Dengan kata lain nanti di tahta penghakiman Kristus, setiap kita akan menerima upah sedinar jikalau kita sudah bekerja penuh selama satu hari.
Apa yang kita pelajari dari perumpamaan ini?
1. Ternyata Allah dapat memakai pekerja diladangNya tanpa melihat usia. Asal saja pekerja itu meresponi panggilanNya.
2. Upah pekerja selama kita hidup hanya satu dinar, jadi sangat naif jika kita meminta lebih kepadaNya.
3. Andaipun engkau telah berusia senja, (70 tahun) itu bukan alasan untuk mengatakan telah terlambat untuk melayani sebagai pekerja diladangNya. Singsingkanlah lenganmu dan mulailah bekerja hari ini.
4. Apabila engkau dipanggil hari ini untuk melayaniNya, janganlah melihat usia karena usia tidak dapat menghalangi Tuhan memakai anda bekerja di ladangNya.
5. Alkitab mengatakan hanya orang yang setia sampai akhir yang akan mendapatkan upah. Jadi walau anda telah bekerja sejak usia dini dilandangNya, namun anda berhenti ditengah jalan, anda tidak akan mendapat sepeserpun. (Matius 10:22)
6. Apabila anda berkata nantilah setelah aku tua baru bekerja diladangnya karena toh upahnya sama 1 dinar waspadalah karena anda tidak tahu kapan malam tiba yaitu kapan anda pulang kepada Bapa dan mempertanggungjawab kan perbuatan anda selama hidup di dunia. Jadi janganlah engkau menunda, mulailah bekeja hari ini.
7. Bagi anda yang bermalas-malasan, ingatlah Yesus telah menegur: “Mengapa kamu menganggur saja?” (ayat 6) karena seorang pemalas tidak layak untuk menerima upah.

Yang pasti kita semua adalah pekerja di ladang anggurnya. Memang tidak semua kita harus menempati 5 jawatan gereja. Tetapi dengan menjadi jemaat yang bertumbuh dalam gereja, kita sejatinya sudah menjadi pekerja yang baik dipemandangan mata Sang Pemilik Kebun yaitu Bapa Kita di Sorga. Jadi, marilah kita berkerja selagi masih siang (Yohanes 9:4)